Sumur Minyak Masyarakat di Blora Mampu Produksi Minyak 15 Ton Perhari
Koran Bintan.com | BLORA — Pemerintah bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan PT. Pertamina (Persero) terus mempercepat penataan sumur minyak masyarakat melalui implementasi Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi.
Regulasi tersebut memberikan kepastian hukum bagi koperasi, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengelola sumur masyarakat melalui kerja sama dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), sehingga kegiatan produksi dapat dilakukan secara legal, aman, dan memenuhi aspek keselamatan serta lingkungan.
Kebijakan itu kemudian disambut positif oleh pelaku UMKM PT Mataram Conection di Desa Gundih, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Mereka berhasil mengelola satu sumur minyak dan berhasil meningkatkan produksi hingga tiga kali lipat setelah menerapkan sistem pompa listrik hasil inovasi sendiri.
“Alhamdulillah, terdapat satu sumur yang dikelola UMKM PT Mataram Conection di Desa Gundih, Blora, Jawa Tengah, sudah bisa berproduksi sebesar 94 BOPD. Kedalaman sumur sekitar 130 meter," ungkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto di Jakarta, Jum'at (3/7/2026).
Dikatakan Djoko Siswanto, sejak menerapkan sistem pompa listrik hasil inovasi sendiri, UMKM itu mampu memproduksi minyak hingga 94 barel atau sekitar 14.945 liter per-hari (BOPD). Angka ini mengalami peningkatan cukup signifikan jika dibandingkan ketika masih dioperasikan secara manual.
Menurut Djoko, sebelumnya sumur minyak tersebut hanya diproduksikan secara manual selama sekitar delapan jam pada siang hari dengan pertimbangan aspek keselamatan kerja (safety). "Dulu mereka pake mesin diesel atau motor listrik untuk mengangkat minyak. Ditarik manual memakai kerekan katrol dengan sistem timba tabung khusus ke permukaan," ungkap Djoko.
Namun, setelah menggunakan pompa listrik yang dirancang secara mandiri oleh pengelola, operasi sumur kini dapat berlangsung selama 24 jam penuh. "Rancangan mereka seperti electrical submersible pump (ESP), didesain khusus untuk mengangkat minyak mentah," kata Djoko.
Sayangnya, meski produksi telah meningkat cukup signifikan, namun pelaku UMKM di Blora tersebut masih menghadapi kendala terkait keterbatasan armada pengangkut minyak dari sumur ke KKKS. Padahal ketersediaan truk tangki, salah satu faktor penting agar produksi harian dapat dipertahankan secara berkelanjutan atau sustain.
“Mereka katanya sanggup menyediakan armada pengangkut. Kalau ini berhasil maka produksi hariannya bisa sustain di kisaran 90-an BOPD,” harap Djoko.
SKK Migas berharap model pengelolaan sumur oleh UMKM dengan dukungan teknologi sederhana dan tetap utamakan keselamatan serta efektif dapat menjadi contoh bagi pengembangan sumur-sumur tua di berbagai daerah. "Ini bukti bahwa inovasi dan pemberdayaan pelaku usaha lokal mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi minyak nasional," tandas Djoko.(han)