WNEL Jalin Kerjasama Dengan PT.PAL Bangun EPCT CSF Untuk Blok Duyung Natuna
Koran Bintan.com | SURABAYA — PT. PAL Indonesia, perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur melebarkan sayap usahanya dengan menggarap proyek industri minyak dan gas bumi (migas) lepas pantai (offshore).
Selama ini PT. PAL dikenal memiliki keunggulan bisnis pada kapabilitas pembangunan dan rancang-bangun kapal perang, dan kapal niaga, pembangunan dan maintenance, repair, dan overhaul (MRO) kapal selam, kapal perang, kapal niaga, dan produk-produk kemaritiman, general engineering produk energi dan elektrifikasi, dan technology development.
BUMN galangan kapal ini secara resmi ditunjuk West Natuna Exploration Limited (WNEL) untuk membangun Engineering, Procurement, Construction and Transportation (EPCT) Conductor Support Frame (CSF) yang akan dipergunakan pada proyek Gas Mako di Laut Natuna, Kepulauan Riau.
Baca juga : Pertamina Drilling Raih Kontrak Rig untuk Proyek Gas Mako Natuna
Struktur pengembangan lapangan gas Mako pada tahap awal mencakup enam sumur pengembangan yang dihubungkan ke unit produksi lepas pantai bergerak (MOPU) sewaan. Gas penjualan akan disalurkan melalui pipa berukuran 18 inci sepanjang kurang lebih 59 kilometer menuju anjungan KF di wilayah kerja Kakap PSC yang bersebelahan, kemudian dialirkan melalui jaringan pipa WNTS untuk dipasok ke pasar domestik Indonesia melalui Batam, Kepri.
Sementara CSF adalah struktur baja penopang konduktor yang jadi fondasi anjungan produksi gas. PT PAL ditunjuk sebagai kontraktor utama mengerjakan rekayasa, pengadaan, konstruksi, sampai transportasi struktur ke lapangan di laut Natuna.
Acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama EPCT CSF tersebut dilaksanakan di kantor pusat PT. PAL Indonesia, Surabaya, antara Direktur Produksi PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro dan Managing Director & CEO Conrad Asia Energy Miltos Xynogalas, Jum'at (19/6/2026).
GM Penjualan Rekayasa Umum dan Pemeliharaan/Perbaikan (MRO) PT PAL Indonesia Aris Wacana Putra, mengatakan, apa yang dilakukan merupakan langkah strategis perluasan bisnis PT.PAL.
Baca juga : Tahun Ini, PT. PHE Pastikan Eksplorasi Blok East Natuna Jalan
“Kepercayaan ini menunjukkan kapabilitas rekayasa dan manufaktur PT. PAL untuk infrastruktur eksploitasi gas lepas pantai. Ini kontribusi nyata industri nasional untuk ketahanan energi,” ujarnya.
Sejak 2005, PT PAL memang sudah garap proyek offshore platform Zelda CNOOC, Ujung Pangkah Amerada Hess, KE-32 Kodeco, Wortel & Peluang Santos, hingga Jacket Bukit Tua Petronas. Pengalaman membangun kapal perang dan niaga jadi modal masuk ke struktur offshore migas.
Proyek Mako sudah masuk Final Investment Decision (FID) Maret 2026. Lapangan gas di Wilayah Kerja Duyung ini ditarget jadi pasokan penting listrik nasional. CSF yang dibangun PT PAL akan jadi bagian infrastruktur produksinya.
Baca juga : PLN EPI Selesaikan Hot Tap WNTS Pemping, Gas Natuna Siap Dialiri ke Dalam Negeri
Menurut Aris peluang bisnis di Blok Duyung bisa melebar. PT PAL menargetkan proyek selesai tepat waktu dengan standar kualitas dan keselamatan, ditopang transformasi digital Industri Maritim 4.0.
Selain infrastruktur, proyek ini didorong untuk menaikkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan libatkan industri pendukung lokal. Kontrak ini sekaligus jadi diversifikasi PT PAL ke sektor energi bernilai tambah tinggi, tak lagi hanya galangan kapal dan pertahanan.
Sementara itu, Managing Director & CEO Conrad Asia Energy Miltos Xynogalas mengatakan, penandatangan kontrak ini menandai tonggak pencapaian penting bagi perusahaannya. "Keberhasilan mendapatkan kontrak EPCT untuk CSF ini mencerminkan kekuatan kapabilitas teknis serta rekam jejak pelaksanaan proyek kami yang terus berkembang," tegas Miltos.
Dia berharap dapat bekerja sama lebih erat dengan PT. PAL untuk mewujudkan aset infrastruktur yang sangat strategis ini secara aman dan efisien. "Yang tak kalah penting lagi, ini menunjukkan progres investasi kami terus berjalan dalam pengembangan gas lepas pantai di Indonesia untuk mendukung ketahanan energi regional dan tujuan transisi energi," tandas Miltos.(han)