OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil, Investor Pasar Modal Tembus 31,14 Juta

IPOLEKSOSBUD 26 Aug 2026 23:14 5 min read 18 views By Nick Wardi
OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil, Investor Pasar Modal Tembus 31,14 Juta
Suasana Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan.

Koran Bintan.com | JAKARTA —  Sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih menunjukkan kinerja yang stabil di tengah tekanan ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pasar modal hingga Agustus 2026 tetap resilien, sementara jumlah investor melonjak menjadi 31,14 juta secara year-to-date (ytd).

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa sektor jasa keuangan masih mampu menjaga fungsi intermediasi sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK pada Rabu (26/8/2026).

OJK mencermati risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi seiring berlarutnya konflik di Iran dan belum terbukanya kembali Selat Hormuz. Gangguan pada jalur distribusi energi tersebut memicu volatilitas harga minyak dan komoditas. Akibatnya, tekanan inflasi global masih relatif tinggi.

Kondisi itu diperburuk oleh fenomena El Nino yang berkepanjangan, yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan. Risiko gagal panen pun meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global.

Baca juga: OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Digital Dan Akselerasi Inovasi Melalui Digination Day 2026

Di tengah berbagai tekanan tersebut, momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat. Mayoritas negara mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II-2026.

Ekonomi Amerika Serikat tumbuh di bawah ekspektasi, sementara pasar tenaga kerja mulai termoderasi. Inflasi masih tinggi meskipun berada dalam tren penurunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II-2026 melambat menjadi 4,3 persen yoy. Pelemahan juga masih terlihat pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

Di tengah perlambatan global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pada triwulan II-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen yoy, meski melambat dari 5,61 persen pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga juga masih menjadi penopang utama perekonomian.

Namun, sejumlah indikator menunjukkan tantangan yang masih perlu diwaspadai. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen yoy, sementara aktivitas manufaktur berada di zona kontraksi dengan PMI sebesar 49,8.

Ketahanan eksternal juga mengalami moderasi. Defisit neraca perdagangan masih berlanjut pada Juni 2026, sementara defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 meningkat menjadi 3,3 persen terhadap PDB.

Pasar saham domestik menunjukkan perbaikan pada Agustus 2026. IHSG ditutup di level 6.525,48, menguat 4,64 persen mtm. Meski demikian, secara ytd IHSG masih terkoreksi cukup dalam, yakni 24,53 persen.

Di tengah volatilitas tersebut, investor asing masih mencatatkan aksi beli bersih. Pada Agustus 2026, investor asing membukukan net buy Rp1,19 triliun, meski turun dari Rp1,62 triliun pada Juli 2026. Likuiditas pasar saham juga membaik. Rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,17 persen, dari 1,33 persen pada Juli 2026.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) meningkat menjadi Rp15,86 triliun, dibandingkan Rp14,31 triliun pada bulan sebelumnya.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 440,04 pada akhir Agustus 2026, naik 2,23 persen mtm. Secara ytd, ICBI masih terkoreksi tipis sebesar 0,18 persen. Pada saat yang sama, yield SBN secara rata-rata meningkat 26,48 basis poin secara mtm.

Menariknya, minat investor asing terhadap surat utang pemerintah tetap positif. Investor asing mencatatkan net buy SBN Rp15,35 triliun sepanjang Agustus 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp6,79 triliun pada Juli.

Sementara itu, pasar obligasi korporasi mencatatkan net sell tipis sebesar Rp70 miliar, membaik dibandingkan net sell Rp260 miliar pada bulan sebelumnya.

Industri pengelolaan investasi juga masih menunjukkan kinerja yang relatif terjaga. Nilai Asset Under Management (AUM) tercatat mencapai Rp1.013,03 triliun, naik 0,03 persen mtm. Namun, secara ytd AUM masih mengalami moderasi sebesar 2,85 persen.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana berada di level Rp652,88 triliun, naik 0,05 persen mtm dan mengalami moderasi 3,32 persen secara ytd. Di sisi lain, investor reksa dana mencatatkan net redemption sebesar Rp8,50 triliun secara mtm.

Sejak ETF Emas diluncurkan pada 10 Agustus 2026, hingga akhir Agustus telah terdapat 7 produk ETF Emas yang diterbitkan oleh tujuh Manajer Investasi. Total dana kelolaan ETF Emas tersebut mencapai Rp90,39 miliar.

Pertumbuhan jumlah investor menjadi salah satu perkembangan paling mencolok di pasar modal. Sepanjang Agustus 2026, jumlah investor pasar modal bertambah 1,07 juta investor secara mtm.

Dengan pertumbuhan tersebut, jumlah investor pasar modal secara ytd meningkat 52,90 persen menjadi 31,14 juta investor. Pertumbuhan ini sejalan dengan penguatan ekosistem digital di industri pasar modal yang semakin memudahkan masyarakat mengakses berbagai instrumen investasi.

Dari sisi pendanaan, korporasi domestik juga masih aktif memanfaatkan pasar modal. Hingga akhir Agustus 2026, fundraising korporasi di pasar modal secara ytd telah mencapai Rp128,80 triliun.

Baca juga: Kontribusi Pindar Untuk UMKM Semakin Meningkat

Dana tersebut berasal dari, 7 Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 12 Penawaran Umum Terbatas (PUT), 9 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), dan 111 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS

Sementara itu, pipeline pasar modal mencatat 24 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif mencapai Rp48,31 triliun.

Penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang. Sepanjang Agustus terdapat 16 efek baru dan tiga penerbit baru dengan dana yang dihimpun sebesar Rp29,97 miliar. Secara agregat, total dana yang telah dihimpun melalui SCF mencapai Rp2,04 triliun.

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, stabilitas sektor jasa keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja pasar saham yang mulai menguat, arus dana asing yang masih masuk ke SBN, pertumbuhan jumlah investor, serta kuatnya penghimpunan dana korporasi menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan masih memiliki kapasitas untuk menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung kebutuhan pembiayaan perekonomian.

Dengan demikian, sektor jasa keuangan nasional masih menjadi salah satu penopang penting bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang penuh tantangan. (nck)

Chat with us on WhatsApp