Mencekam! Bumi NTT Terus Bergetar Sebanyak 2.403 Kali
Koran Bintan.com | JAKARTA — Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hingga Selasa (18/8/2026) pukul 17.00 WIB, gempabumi susulan paska Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Magnitudo 7,7 yang terjadi pada pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB terjadi sebanyak 2.403 kali. Magnitudo terbesar pada 6,2 dan terkecil pada 1,3. Sedangkan Magnitudo di atas 5 terjadi sebanyak 24 kali.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya aktivitas seismik yang sangat tinggi, menandakan proses alamiah bumi dalam mencari keseimbangan baru setelah pelepasan energi besar.
Meskipun ribuan warga masih diliputi kecemasan, pemerintah melalui BNPB terus melakukan pemantauan ketat terhadap intensitas gempa susulan yang terjadi. Fenomena ini menjadi perhatian serius demi memastikan keselamatan warga di tengah proses evakuasi dan pendataan kerusakan.
Data sementara pada Minggu (16/8), pukul 16.00 WIB, total jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang. Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Manggarai Barat 1 orang, Nagekeo 1 orang dan Ende 2 orang.
Baca juga : Korban Gempa 7,7 M di NTT Bertambah: 33 Orang Tewas, 23 Luka, Ribuan Mengungsi
Selain korban meninggal, petugas gabungan juga mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka. Total korban luka-luka mencapai 137 jiwa. Saat ini, korban luka sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun faskes darurat.
Total rumah rusak berat di Provinsi NTT mencapai 1.543 unit, rusak sedang 328 unit, dan rusak ringan 532 unit. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas pendidikan 87 unit, tempat ibadah 50 unit, kantor pemerintahan 76 unit dan sejumlah fasilitas umum lain.
Sementara pendataan warga yang mengungsi masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Minggu (16/8) sebanyak 5.488 jiwa mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri.
"Dari total gempa susulan yang tercatat 995 kali itu, hanya 46 kali yang dirasakan oleh masyarakat. Jumlah ini tidak sampai 10 persen dari total gempa susulan yang terjadi," ungkap Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, saat jumpa pers penanganan darurat gempa NTT.
Menurut Aam, sapaan akrab Abdul Muhari, jumlah gempa yang dirasakan warga sebenarnya relatif kecil dibandingkan total aktivitas seismik yang terekam oleh sensor.
Munculnya rentetan gempa susulan ini, menurut BNPB, adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses geologi. Gempa susulan berfungsi sebagai mekanisme pelepasan sisa energi agar struktur patahan atau sesar yang bergeser dapat kembali ke kondisi stabil.
"Yang perlu kita pahami, gempa susulan ini diperlukan oleh struktur patahan gempa yang terjadi untuk kembali menjadi stabil. Jadi ini adalah fenomena alam yang memang harus kita lalui," tambah Abdul.
Aam mengatakan, saat ini status tanggap darurat telah diberlakukan di Kabupaten Manggarai selama 90 hari. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur sedang dalam proses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari. Adapun penetapan status tanggap darurat untuk Provinsi NTT juga masih dalam proses.
Baca juga : Gempa Bumi Magnitudo 7,7 Guncang Nagekeo, Dua Orang Meninggal Dunia di Sikka
Dikatakan Aam lagi, selain berfokus pada pencarian dan pertolongan korban serta pemenuhan kebutuhan logistik dasar bagi masyarakat terdampak, pemerintah mulai melakukan pendataan dan identifikasi kerugian materiil akibat gempa.
“Kita harapkan di lapangan pemerintah daerah, dibantu oleh personel dari pemerintah pusat, juga sudah bisa melakukan pendataan dan identifikasi kerugian materiil, terutama berkaitan dengan rumah rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat,” ujarnya.
Menurut Aam, identifikasi tingkat kerusakan rumah dan bangunan tersebut penting dilakukan sejak awal agar pemerintah dapat mempersiapkan tahapan selanjutnya secara lebih efektif, khususnya dalam mempercepat proses transisi dan pemulihan menuju tahap rekonstruksi.
“Ini sangat penting supaya proses early recovery nantinya bisa kita lakukan, kita percepat, dan kita akselerasi,” tandasnya.(han)