Luar Biasa! Bintan Raih Penghargaan Internasional Pada IMT-GT 2026
Koran Bintan.com | MEDAN — Pemerintah Kabupaten Bintan menjadi satu-satunya pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang meraih penghargaan pada 32ⁿᵈ The Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Green City Award 2026.
Kabupaten Bintan meraih Silver Award (Juara II) pada 1ˢᵗ IMT-GT Green City Award untuk Kategori Circular Economy and Resource Efficiency atau Ekonomi Sirkular dan Efisiensi Sumber Daya. Sementara tuan rumah, Kota Medan meraih Penghargaan Emas (Gold Award) untuk kategori serupa.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Muhammad Tito Karnavian kepada Bupati Bintan Roby Kurniawan dalam rangkaian Gala Dinner 32ⁿᵈ Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Ministerial Meeting di Ballroom JW Marriott Hotel Medan, Sumatera Utara, Rabu (9/9/2026) malam.
Sementara itu, Kota Pekanbaru, Riau menyabet 4 penghargaan dalam ajang tersebut. Masing-masing Penghargaan Emas (Gold) Kategori Education for Sustainable Development, Penghargaan Perak (Silver) Kategori Urban Biodiversity and Ecosystem Management, Penghargaan Perunggu (Bronze) Kategori Solid Waste Management, serta Certificate of Recognition Kategori Sustainable Transportation and Low-Carbon Mobility.
Kota Banda Aceh meraih Penghargaan Perak (Silver Award) Kategori Solid Waste Management dan Majlis Bandaraya Seremban, Malaysia meraih Penghargaan Perak (Silver Award) Kategori Education for Sustainable Development.
Baca juga: Daerah Penghasil Mulai Bersuara Keras, Kepala Daerah Tagih Keadilan Fiskal ke Pusat
Dalam sambutannya, Mendagri Tito mendorong kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) tidak berhenti sebagai forum pertemuan dan dialog antarpemerintah.
Tito menegaskan, kerja sama kawasan tersebut harus mampu melahirkan program dan proyek konkret, terukur, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Menurut Tito, tantangan utama IMT-GT bukan hanya menjaga keberlangsungan forum pertemuan antarpemerintah, tetapi bagaimana berbagai gagasan yang muncul dapat benar-benar diwujudkan menjadi kerja sama nyata.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kita mewujudkannya? Bagaimana kita mengubah visi menjadi kenyataan? Inilah persoalan yang sebenarnya,” tegas Tito.
Ia mengatakan pemerintah pusat maupun daerah memiliki peran strategis untuk menerjemahkan kerja sama regional tersebut ke dalam berbagai bentuk kolaborasi.
Salah satunya melalui penguatan hubungan antardaerah, termasuk membangun kerja sama kota kembar atau provinsi kembar dengan wilayah di Malaysia dan Thailand.
Tito juga menyoroti besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan IMT-GT, khususnya hubungan antara Malaysia, Thailand, dan Pulau Sumatera.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki modal yang kuat berupa jumlah penduduk, sumber daya alam, tenaga kerja produktif, serta beragam komoditas unggulan
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah komoditas karet. Malaysia dan Thailand dikenal memiliki sejarah panjang sebagai negara penghasil karet, sementara sejumlah wilayah di Sumatera juga memiliki tradisi produksi komoditas tersebut.
Namun, Tito mendorong agar kerja sama tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah. Potensi karet perlu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Selain karet, Sumatera juga memiliki kekayaan sumber daya alam lainnya, mulai dari minyak dan gas bumi, emas, hingga sektor pertanian dan perkebunan.
Dengan jumlah penduduk sekitar 63 juta jiwa dan didominasi usia produktif, Sumatera dinilai memiliki basis pasar sekaligus sumber daya manusia yang besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan.
Posisi geografis Sumatera yang berdekatan dengan Malaysia dan Thailand semakin memperkuat peluang tersebut. Kondisi ini, kata Tito, dapat menjadi fondasi untuk memperluas perdagangan, investasi, konektivitas, pariwisata, serta berbagai bentuk kerja sama ekonomi lintas negara.
Tito juga meminta pemerintah daerah tidak hanya menjadi peserta dalam forum IMT-GT, tetapi aktif membangun komunikasi dan kolaborasi dengan daerah di Malaysia dan Thailand.
Menurutnya, hubungan antarpemerintah daerah menjadi penting agar kerja sama regional dapat diterjemahkan menjadi program yang lebih konkret dan dirasakan langsung masyarakat.
Karena itu, para gubernur, wakil gubernur, dan pemimpin daerah dari ketiga negara didorong memanfaatkan forum IMT-GT untuk membangun jejaring kerja sama yang berkelanjutan.
“Jadi, ini bisa menjadi wadah yang baik bagi Anda untuk saling mengenal, meskipun mungkin hanya untuk satu atau dua hari. Setidaknya, Anda mendapatkan teman baru,” ujar Tito.
Ditemui usai menerima penghargaan, Bupati Bintan Roby Kurniawan mengungkapkan rasa syukur dan bangganya. Menurut Roby, pencapaian ini merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen di Kabupaten Bintan.
Bagi Roby, pengakuan di tingkat regional ini tidak membuat Pemkab Bintan berpuas diri, melainkan menjadi pemacu semangat untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola lingkungan dan investasi hijau demi kesejahteraan masyarakat.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Bintan, sekaligus motivasi bagi kami untuk terus berbuat lebih baik. Konsep ekonomi sirkular dan efisiensi sumber daya tentu memerlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Bupati Roby.
Baca juga: Presiden Prabowo Cerita Soal Adanya Menteri yang Lapor Pemenang Tender Proyek 'Orang' PDIP
Gala Dinner tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari tiga negara. Di antaranya Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian, Gubernur Sumatera Utara M. Bobby Afif Nasution, Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah bin Mohd. Nasir, serta Vice Minister for Office of the Prime Minister Kingdom of Thailand H.E. Thanadit Raktabut.
Hadir juga Director General Southeast Asia Department of Asian Development Bank Nianshan Zhang, Deputy Secretary General of ASEAN (ASEC) Nararya S. Soeprapto, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi yang mewakili Menko Perekonomian Edi Prio Pambudi, Chief Minister of Perlis sekaligus Head of CMGF Malaysia Abu Bakar bin Hamzah, serta Governor of Trang Province sekaligus Head of CMGF Thailand H.E. Mr. Songklod Sawanwong.
IMT-GT
The Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) adalah adalah forum kerja sama yang dibentuk pada tahun 1993 oleh Pemerintah negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di propinsi-propinsi negara anggota di wilayah semenanjung Malaka.
Wilayah kerja sama ketiga negara tidak meliputi seluruh wilayah negara anggota, melainkan hanya meliputi Aceh, Bangka-Belitung, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat di Indonesia.
Kemudian, delapan negara bagian di Semenanjung Malaysia yang terdiri dari Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri Sembilan, Penang, Perak, Perlis and Selangor.
Terakhir 14 Propinsi di Thailand selatan seperti Krabi, Nakhon Si Thammarat, Narathiwat, Pattani, Phattalung, Satun, Songkhla, Trang, Yala, Chumphon, Ranong, Surat Thani, Phang Nga, dan Phuket.(han)