Pedagang Rumahan Keluhkan Sulit Dapatkan Bahan Jualan Sejak Ada MBG
Koran Bintan.com | TANJUNGUBAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu masalah bagi pedagang kecil yang membuka usaha di komplek perumahan atau kampung. Pasalnya sejak ada program kebanggan Presiden Prabowo Subianto itu, mereka acapkali tidak mendapatkan pasokan bahan dagangan karena sudah diborong habis oleh dapur MBG.
"Sejak ada MBG ini, barang dagangan yang mau kita beli seperti tempe, dan tahu selalu habis," ungkap Tini, pedagang kecil yang membuka usaha di salah satu perumahan di Lobam, Seri Kuala Lobam, Bintan saat ditemui di Pasar Baru, Tanjunguban, Sabtu (4/7/2026).
Bahkan yang lebih mirisnya, akibat kehadiran MBG, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok melonjak tajam. Sebagai contoh kata Tini, kalau dulu harga ayam fillet perkilogramnya sekitar 40 ribuan Rupiah namun sejak adanya MBG, harga ayam filet menjadi 50 ribuan Rupiah. "Pernah sampai Rp 58 ribu," keluh Tini.
Senada dengan itu, Kasmah, pedagang kecil lainnya mengungkapkan rasa kesalnya karena bahan yang ingin. dibelinya juga ikut menghilang dengan kehadiran program MBG. "Banyak sayur-sayuran yang juga menghilang dari pasar kalau MBG sudah mulai aktif lagi," kata dia.
Namun sebaliknya, saat program MBG dihentikan karena libur sekolah seperti saat ini, maka semua barang-barang yang dibutuhkan pedagang kecil seperti dirinya, tersedia dan bahkan kadang berlebihan. "KIta faham kawan-kawan pedagang cari untung tapi ingat kita jugalah, pedagang rumahan ini," tandas Kasmah.
Sementara itu, pedagang kantin yang biasa berjualan makanan dan minuman di sekolah juga ikut merasakan penurunan omset pendapatan sejak berjalannya program MBG. Bahkan ada pedagang yang terpaksa menutup usahanya dan beralih profesi demi dapat membantu perekonomian keluarganya.
"Dulu saya masih jualan di salah satu SMP swasta disini. Namun lama kelamaan, anak-anak sekolah yang biasa berbelanja ke warung pada menghilang satu persatu sejak adanya MBG ini," ungkap Erna.
Akhirnya dia terpaksa menutup usahanya yang sudah ditekuninya sejak lama tersebut dan merencanakan untuk mencari pekerjaan lain. "Karena punya keahlian memasak, saya sedang mencoba melamar ke beberapa dapur MBG yang baru buka. Mudah-mudahan keterima," ujar Erna.
Menanggapi hal itu, Mursaidin Albantani, pengamat dari Sinyal Publik Indonesia mengatakan, dari hasil survei menunjukkan bahwa 90,9 persen responden menilai Program MBG belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap usaha mereka.
Mayoritas pedagang mengaku belum mengalami peningkatan omzet, jumlah pembeli relatif tidak berubah, sementara harga beberapa kebutuhan pokok dan biaya distribusi justru mengalami kenaikan.
Mursaidin berharap pemerintah memberikan kesempatan yang sama kepada petani lokal, nelayan, koperasi, pedagang pasar tradisional, dan UMKM di setiap daerah sebagai pemasok dapur MBG.
"Ataukah rantai pasok lebih banyak dikuasai oleh pemasok berskala besar yang memiliki kemampuan memenuhi seluruh spesifikasi pengadaan," tanya Mursaidin.
Pertanyaan tersebut bukanlah tuduhan adanya kartel ataupun praktik monopoli. Namun, dalam program yang menggunakan anggaran negara dalam jumlah sangat besar, transparansi rantai pasok merupakan bagian dari akuntabilitas publik.
"Publik berhak mengetahui bagaimana mekanisme pemilihan pemasok dilakukan, siapa saja yang memperoleh kontrak pengadaan, dari mana asal bahan pangan diperoleh, dan sejauh mana pelaku usaha lokal dilibatkan," tandas Mursaidin.(sam)