Makkah Berduka, Muazin Masjidil Haram Berpulang Usai Kumandangkan Azan
Koran Bintan.com | MAKKAH — Kabar duka datang dari Masjidil Haram, Makkah. Salah satu muazinnya, Syekh Ibrahim Al Madani dikabarkan telah berpulang ke rahmatullah pada Senin (21/9/2026) dalam usia 50 tahun.
Syekh Ibrahim masih sempat mengumandangkan azan Subuh di Masjidil Haram pada Senin dini hari. Seruan tersebut kemudian menjadi azan terakhirnya sebelum wafat beberapa jam kemudian.
Syekh Ibrahim lahir di Madinah pada 8 Zulhijah 1397 Hijriah dan tumbuh dalam keluarga religius. Kakeknya merupakan seorang hafiz Al-Qur'an yang berpengaruh besar dalam pembentukan kehidupan keagamaannya.
Ia mulai mengumandangkan azan ketika berusia sekitar 15 tahun di masjid lingkungan tempat tinggalnya. Pada masa awal, ia menggunakan gaya Mesir. Memasuki masa sekolah menengah hingga perguruan tinggi, ia lebih banyak menggunakan gaya azan Madinah.
Ia bahkan bergiliran menjadi muazin bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah. Sempat berhenti karena mengajar di luar Madinah, ia kemudian kembali mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah pada 1428 Hijriah.
Pengabdiannya berlanjut hingga akhirnya dipercaya menjadi muazin Masjidil Haram pada 2017-2018.
Syekh Ibrahim tidak pernah menjadi muazin Masjid Nabawi. Namun, ia menyebut Madinah telah membentuk karakter suara, gaya azan, sekaligus kecintaannya terhadap panggilan salat.
Baca Juga: Jemaah Haji Binut, SKL dan Teluk Sebong Dikumpulkan di Masjid At Taqwa
Syekh Ibrahim dikenal sebagai salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Selain azan, ia juga menjalankan tugas tabligh dengan menyampaikan takbir dan gerakan imam kepada jamaah melalui pengeras suara.
Latar belakangnya yang tumbuh di Madinah turut memengaruhi gaya azannya. Ia mengenal tradisi azan Madinah sejak kecil sekaligus mempelajari karakteristik azan Mekkah setelah sering berkunjung ke kota suci tersebut.
Perjalanan itu mencapai titik penting ketika ia secara resmi ditunjuk menjadi muazin Masjidil Haram pada Ramadan 1439 Hijriah atau 2018. Daftar muazin yang tersedia juga mencatat pengangkatannya pada 2018.
Ia kemudian dikenal sebagai salah satu suara yang mengisi azan dan takbir di Masjidil Haram.
Media Saudi menyebut terdapat 24 muazin utama yang bertugas secara bergiliran, dengan enam orang menjalankan tugas setiap hari.
Namun, di balik kemampuannya, Syekh Ibrahim memandang azan bukan sekadar seni suara.
Baca juga: Arab Saudi Umumkan Penyelenggara Haji Terbaik 2026: Malaysia Juara I, Indonesia Nihil Gelar
Baginya, muazin memikul amanah untuk menyampaikan kesaksian tentang keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, seorang muazin harus memiliki kejujuran, amanah, dan keikhlasan.
Dalam sebuah wawancara, Syekh Ibrahim pernah mengisahkan pengalaman pertamanya mengumandangkan azan di Masjidil Haram. Ia mengaku terharu hingga menangis ketika melihat jamaah tawaf mengelilingi Ka'bah sambil mendengar lantunan azannya.
Salat jenazah Al Madani dijadwalkan setelah salat Asar pada Senin di Masjidil Haram. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, Mekkah.
Allaahummaghfir lahu warham hu wa'aafi hii wa'fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi'madkhola hu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa'aidz hu min'adzaabil qobri wa fitnati hi wa min'adzaabin naar.(han)