Tugu Bahasa Dibangun, Akademisi Ajak RAHRN Hidupkan Warisan Intelektual Pulau Penyengat

KEPRINESIA 19 Jun 2026 07:31 3 min read 82 views By Azwardi
Tugu Bahasa Dibangun, Akademisi Ajak RAHRN Hidupkan Warisan Intelektual Pulau Penyengat
Maket Museum dan Monumen Tugu Bahasa yang akan dibangun di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). (Foto : ist)

Koran Bintan.com | TANJUNGPINANG — Rencana pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi.

Namun, mereka mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus diiringi dengan pembangunan ekosistem intelektual agar warisan Raja Ali Haji tidak hanya menjadi objek wisata sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Melayu.

Akademisi dan pemerhati peradaban Melayu, Dr. Hos Arie Sibarani, mengusulkan pembentukan Raja Ali Haji Research Network (RAHRN) sebagai wadah kolaborasi penelitian nasional dan internasional yang berfokus pada pemikiran, bahasa, sejarah, hukum, kepemimpinan, dan peradaban Melayu.

Menurutnya, pembangunan Tugu Bahasa merupakan momentum penting untuk mengangkat kembali posisi Pulau Penyengat sebagai pusat intelektual Melayu yang pernah melahirkan tokoh besar seperti Raja Ali Haji.

"Tugu Bahasa adalah simbol penghormatan terhadap sejarah. Namun yang lebih penting adalah bagaimana warisan intelektual Raja Ali Haji terus hidup melalui penelitian, publikasi, konferensi, dan kolaborasi akademik lintas negara," tegas Dr. Hos.

Pemerintah Provinsi Kepri sendiri katanya, menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) Museum dan Monumen Tugu Bahasa pada akhir Juli 2026. Proyek tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah bahasa Melayu dan destinasi wisata budaya unggulan nasional.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad, pernah menyatakan bahwa pembangunan monumen tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari penguatan identitas budaya Melayu dan sejarah kebahasaan Indonesia.

Dr. Hos menjelaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki posisi yang sangat strategis dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Dari pulau kecil inilah lahir berbagai karya penting Raja Ali Haji yang menjadi fondasi perkembangan bahasa Melayu modern dan berkontribusi terhadap pembentukan bahasa Indonesia.

Karena itu, menurutnya, pembangunan Tugu Bahasa seharusnya diikuti dengan pembentukan pusat kajian dan jejaring penelitian yang mampu menghidupkan kembali tradisi intelektual yang pernah berkembang di Penyengat.

"Monumen menjaga memori sejarah. Research Network menjaga keberlanjutan pemikiran. Keduanya harus berjalan beriringan," harapnya.

RAHRN direncanakan menjadi jejaring akademik yang menghubungkan perguruan tinggi, peneliti, budayawan, dan lembaga kajian dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga berbagai pusat studi Melayu di dunia.

Gagasan tersebut juga sejalan dengan visi pengembangan Pulau Penyengat yang saat ini tengah didorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebagai kawasan warisan budaya nasional dan destinasi wisata sejarah internasional. 

Melalui RAHRN, sejumlah program yang diusulkan antara lain, Raja Ali Haji International Conference, Raja Ali Haji Visiting Scholar Program; Publikasi jurnal internasional studi Melayu, pertukaran dosen dan mahasiswa Indonesia–Malaysia, Pusat dokumentasi manuskrip dan karya Raja Ali Haji, dan Forum tahunan Peradaban Melayu Dunia.

Dalam tahap awal, jaringan tersebut diharapkan dapat melibatkan perguruan tinggi seperti Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Riau Kepulauan, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, dan Universiti Teknologi MARA.

Dari Penyengat untuk Dunia

Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai karya monumental Raja Ali Haji, termasuk Gurindam Dua Belas yang hingga kini menjadi salah satu mahakarya sastra Melayu. Namun bagi Hos Arie, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar menjaga situs sejarah, melainkan menjadikan warisan tersebut relevan bagi generasi masa depan.

Dengan dimulainya pembangunan Tugu Bahasa pada Juli 2026 dan munculnya gagasan Raja Ali Haji Research Network, Pulau Penyengat dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai salah satu pusat intelektual Melayu paling penting di Asia Tenggara, sekaligus memperkuat posisi Kepulauan Riau sebagai beranda kebudayaan Melayu Nusantara.

"Sudah saatnya Penyengat tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi juga menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan tentang dunia Melayu. Jika berhasil, Pulau Penyengat dapat berkembang menjadi pusat studi Melayu dunia yang menghubungkan sejarah, budaya, pendidikan, dan riset dalam satu ekosistem peradaban," tandas Dr. Hos.(azw)

Chat with us on WhatsApp