Raja Ali Haji Research Network: Membangun Jaringan Riset Melayu Dunia dari Kepri
Koran Bintan.com | TANJUNGPINANG — Kepulauan Riau dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kajian Melayu dunia melalui penguatan kolaborasi akademik lintas negara yang berfokus pada pemikiran dan warisan intelektual Raja Ali Haji.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui inisiatif pembentukan Raja Ali Haji Research Network (RAHRN), sebuah jaringan riset yang bertujuan menghubungkan akademisi, peneliti, budayawan, dan perguruan tinggi di kawasan dunia Melayu.
Inisiator RAHRN, Dr. Hos Arie Sibarani, mengatakan bahwa selama ini Raja Ali Haji lebih dikenal sebagai Pahlawan Nasional, pengarang Gurindam Dua Belas, dan tokoh penting dalam perkembangan bahasa Melayu. Namun, pemikirannya di bidang kepemimpinan, etika, hukum, tata pemerintahan, pendidikan, dan peradaban Melayu masih memerlukan kajian yang lebih luas dan sistematis dalam lingkup akademik internasional.
“Raja Ali Haji bukan hanya milik Kepulauan Riau atau Indonesia. Beliau adalah salah satu intelektual terbesar dunia Melayu yang pemikirannya tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman, terutama terkait kepemimpinan yang berintegritas, tata kelola pemerintahan yang beradab, dan pembangunan peradaban berbasis nilai,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Dr. Hos, dunia akademik saat ini bergerak menuju kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu. Oleh karena itu, diperlukan sebuah wadah yang mampu mempertemukan para peneliti dan institusi yang memiliki perhatian terhadap kajian Melayu dan pemikiran Raja Ali Haji.
Jaringan riset tersebut direncanakan melibatkan perguruan tinggi dan pusat studi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, hingga berbagai lembaga akademik internasional yang memiliki fokus pada studi Melayu, Islam, bahasa, budaya, dan sejarah kawasan.
Selain memperkuat penelitian, RAHRN juga diharapkan menjadi platform kolaborasi untuk penyelenggaraan konferensi internasional, publikasi jurnal bereputasi, pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, digitalisasi manuskrip Melayu, serta pembangunan pusat data kajian Raja Ali Haji yang dapat diakses oleh peneliti dari berbagai negara.
“Selama ini dunia mengenal Shakespeare melalui Inggris, Konfusius melalui Tiongkok, dan Ibn Khaldun melalui dunia Arab. Sudah saatnya Raja Ali Haji menjadi ikon intelektual yang mengangkat Kepulauan Riau sebagai pusat rujukan studi Melayu dunia,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa Kepulauan Riau memiliki legitimasi historis dan kultural yang kuat karena merupakan tempat Raja Ali Haji dilahirkan, berkarya, dan menghasilkan berbagai karya penting yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi Bahasa Indonesia modern.
Menurutnya, keberadaan jaringan riset ini juga dapat menjadi instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Melalui pendekatan akademik, pemikiran Raja Ali Haji dapat diperkenalkan sebagai kontribusi intelektual Indonesia bagi pengembangan peradaban dunia yang lebih beradab, inklusif, dan berlandaskan nilai.
“Kepri tidak hanya memiliki posisi strategis di jalur perdagangan internasional, tetapi juga memiliki warisan intelektual yang sangat bernilai. Raja Ali Haji adalah aset peradaban yang harus kita hadirkan kembali dalam percakapan akademik global,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, RAHRN akan mendorong pembentukan kelompok riset tematik yang mencakup bidang kepemimpinan Melayu, hukum dan tata negara, bahasa dan sastra, pendidikan, sejarah, kebudayaan, serta studi peradaban. Jaringan ini juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi di kawasan ASEAN dan berbagai lembaga penelitian internasional.
Dr. Hos berharap inisiatif tersebut dapat menjadi tonggak baru dalam penguatan posisi Kepulauan Riau sebagai pusat studi Melayu internasional sekaligus memperluas pengaruh pemikiran Raja Ali Haji di tingkat dunia.
“Jika Kepri selama ini dikenal sebagai beranda Indonesia di bidang geopolitik dan kemaritiman, maka melalui RAHRN, Kepri juga dapat menjadi beranda peradaban Melayu dunia di bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran,” pungkasnya.(azw)