Dosen UNRIKA Batam Jadi Dosen Tamu di UiTM Malaysia, Angkat Pemikiran Raja Ali Haji
Koran Bintan.com | SHAH ALAM — Dr. Hos Arie Rhamadhan Sibarani, SH, MH, Dosen Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam, Kepulauan Riau menjadi dosen tamu (visiting lecturer) di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, Senin (15/6/2026).
Didepan forum yang dihadiri mahasiswa dan petinggi UiTM, Dr. Ari menyampaikan materi spesifik dari sudut pandang praktisi atau ahli mengangkat tema “Raja Ali Haji and Ethical Leadership in the Malay World: Amanah, Adab, and Civilizational Governance.”
Kegiatan yang dilaksanakan di The Library Community Engagement (LCE) Area UiTM ini tidak hanya menjadi forum akademik internasional untuk membahas pemikiran Raja Ali Haji, tetapi juga membuka peluang penguatan kerja sama pendidikan tinggi antara Malaysia dan Indonesia.
Dalam kuliah tamu tersebut, Dr. Arie menjelaskan bahwa Raja Ali Haji merupakan salah satu intelektual terbesar dunia Melayu yang pemikirannya tetap relevan dalam menjawab tantangan kepemimpinan dan tata kelola pada abad ke-21.
Menurutnya, karya-karya Raja Ali Haji seperti Gurindam Dua Belas, Tsamarat al-Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, dan Tuhfat al-Nafis mengajarkan pentingnya amanah, adab, keadilan, dan tanggung jawab moral sebagai fondasi utama kepemimpinan.
“Ketika dunia berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, dan daya saing global, Raja Ali Haji mengingatkan kita bahawa kemajuan peradaban tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh integritas moral para pemimpinnya,” ujar Dr. Arie.
Saat sesi diskusi, sejumlah mahasiswa dan dosen UiTM langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan mengenai tata kelola pemerintahan, kepemimpinan etis, dunia Melayu, serta relevansi nilai-nilai Islam dalam menghadapi perkembangan teknologi modern.
Selain kegiatan akademik, kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk menjajaki peluang kerja sama antara UiTM dan perguruan tinggi yang ada di Kepulauan Riau. Dalam berbagai pertemuan yang berlangsung selama kunjungan, muncul kesepahaman awal mengenai pentingnya memperkuat jejaring akademik serumpun dalam bidang pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Kerja sama tersebut akan melibatkan Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman dengan Universiti Teknologi MARA.
Beberapa peluang kolaborasi yang dibahas antara lain, pertukaran dosen dan mahasiswa (student and staff mobility), penyelenggaraan seminar dan konferensi internasional bersama, penelitian kolaboratif mengenai dunia Melayu, kepemimpinan, tata kelola, dan peradaban Islam, publikasi bersama pada jurnal bereputasi internasional, pengembangan program visiting lecturer dan joint academic activities, enguatan kajian Raja Ali Haji dan warisan intelektual Melayu sebagai khazanah bersama Indonesia–Malaysia, dan pengembangan pusat kajian Melayu-Islam dan tata kelola peradaban di kawasan ASEAN.
Secara khusus keberadaan UMRAH sebagai perguruan tinggi yang memiliki kedekatan historis dengan Pulau Penyengat dan warisan Raja Ali Haji dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan kajian Melayu internasional.
Sementara itu, STAIN Sultan Abdurrahman dipandang memiliki potensi besar dalam penguatan studi Islam, hukum Islam, dan pemikiran keislaman Melayu yang dapat dikolaborasikan dengan berbagai pusat kajian di Malaysia.
Dr. Arie menyampaikan bahwa hubungan historis dan budaya antara Kepulauan Riau dan Malaysia merupakan modal penting untuk membangun kerja sama akademik yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Dunia Melayu memiliki warisan intelektual yang sangat kaya. Melalui kolaborasi antara UiTM, UNRIKA, UMRAH, dan STAIN Sultan Abdurrahman, kita dapat memperkuat riset, publikasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berakar pada tradisi Melayu-Islam namun tetap relevan dengan tantangan global,” ungkapnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi akademik antara Indonesia dan Malaysia melalui pengembangan jejaring pendidikan tinggi, pertukaran pengetahuan, serta pelestarian warisan intelektual Melayu sebagai kontribusi bagi pembangunan peradaban ASEAN yang lebih beretika, inklusif, dan berkelanjutan.(azw)