Refleksi MTQ XII Tingkat Provinsi Kepri 2026, Ketika Hati, Lisan Dan Perilaku Dibawah Naungan Kitab Suci
SUNGGUH berat rasanya sepuluh jari jemari ini ketika akan mengetik judul di atas, apalagi menerapkan dalam keseharian. Kenapa?. Begitu berat tantangan yang datang dari berbagai arah. Dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri.
Setan selalu mencoba menjerumuskan manusia yang hendak berbuat baik menuju syurga sebagaimana tersurat dalam QS. Al-'raf ayat 17.
Namun demikian, bagi siapapun yang telah bersaksi bahwa, tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam utusan Allah, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah wajib mengimani dan melaksanakan isi pesan Ilahi yang termaktub dalam kitab suci.
Tulisan ini sebagai upaya untuk mengingatkan diri sendiri dan mengajak pembaca untuk berusaha keras mewujudkan cita-cita mulia tersebut.
Saat ini di jantung ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang sedang berlangsung perhelatan suci Musabaqah Tilawatil Qur'an ke-XII Tahun 2026.
Sebuah perhelatan mulia nan religius, teristimewa bagi umat Islam. Betapa tidak, senandung kitab suci dengan berbagai cabang dilombakan untuk generasi qurani dari tujuh kabupaten kota dengan maksud dan tujuan yang sama 'Dengan Al-Qur'an Membangun Kepri'.
Tema ini sepadan dengan watak jati diri bumi Melayu yang sarat dengan ruh ajaran kitab suci dalam detak nafas kehidupan bermasyarakat dan bernegara sebagaimana terjewantahkan dalam syair Gurindam Dua Belas karya pujangga besar Raja Ali Haji.
Falsafah Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah pedoman hidup utama masyarakat Melayu. Artinya, segala bentuk adat istiadat, budaya, dan perilaku dalam bermasyarakat harus berlandaskan syariat (hukum Islam), yang sumber utamanya adalah Kitabullah (Al-Qur'an).
Musabaqah secara hakikinya adalah upaya syiar, membumikan ajaran kitab suci yang dimulai dari memperdengarkan tilawah. Keagungan isinya dengan lantunan, penerjemahan, penafsiran, hingga orientasi karya ilmiah berbasis Al-Qur'an yang happy endingnya adalah bagaimana isi pesannya terealisasi dalam hati, lisan, dan dilaksanakan melalui perilaku hidup sehari-hari.
Ribuan guru ngaji yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Kepri hingga ke pelosok-pelosok desa dan kampung melalui ruang-ruang masjid dan musala dipastikan memiliki lembaga pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an, dalam konteks ini, memiliki peran strategis mewujudkan upaya membumikan nilai-nilai ajaran kitab suci terutama bagi generasi masa depan bangsa.
Musabaqah yang sedang berlangsung saat ini kita jadikan momentum bersama untuk menjadikan hati, lisan, dan perilaku kita selalu dalam naungan Al-Qur'an. Semoga Taufik dan hidayah Allah selalu menyertai kita, nasrum minallah wa fathun qarib.***
