Sepiring Nasi, Ratusan Santri Terbaring

DI Sidoarjo, ratusan santri dan siswa Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, harus mendapatkan perawatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Kalitengah, Selasa, 1 September 2026.
Pada Jumat, 4 September, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 748 orang terdampak. Sebanyak 728 sudah diperbolehkan pulang dan 20 masih menjalani rawat inap.
Di antara angka itu ada anak-anak yang beberapa jam sebelumnya masih tertawa, belajar dan mengaji. Lalu tiba-tiba sakit. Mual. Muntah. Pusing. Tubuh lemas.
Bayangkan anak yang biasanya membuat ibunya tersenyum, kali ini ditemui di rumah sakit dengan tangan terpasang infus. Sedih tentu. Marah juga wajar.
Jangan buru-buru menuduh makanan tertentu sebelum pemeriksaan laboratorium selesai. Namun jangan pula menganggap kejadian ini cukup dijawab dengan kata “maaf”. Sebab ini menyangkut keselamatan anak-anak.
Kepala BGN Sudaryono mengungkap penelusuran sementara menemukan persoalan pada kepatuhan terhadap SOP. Makanan disebut matang sekitar pukul 05.00 dan seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00. Tetapi label pada ompreng menunjukkan waktu 08.00–10.00.
Yang lebih memprihatinkan, pengiriman yang semestinya sebelum pukul 10.00 justru tiba sekitar pukul 11.30–11.40 dan makanan baru disantap setelah pukul 12.00.
Kalau demikian, mengapa makanan yang sudah matang sejak pagi masih dalam perjalanan ketika waktu aman konsumsinya hampir atau sudah terlewati?
SOP adalah pagar keselamatan. Kalau dilompati, yang jatuh bukan angka statistik, tetapi anak manusia. Petugas SPPG berada di garis depan. Kesalahan pengolahan, pelabelan, penyimpanan atau distribusi tidak boleh dianggap sepele. Persoalan juga harus dilihat sebagai persoalan sistem.
Lalu apa langkahnya? Pertama, dapur yang diduga menjadi sumber persoalan dihentikan sementara. BGN telah mensuspend SPPG Kalitengah dan mencopot kepala SPPG Rafli Ridho.
Kedua, seluruh rantai proses harus diperiksa, dari bahan baku, kebersihan, memasak, pengemasan, pelabelan, pengiriman hingga makanan disantap.
Ketiga, sampel harus diuji. Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sampel bahan makanan dan muntahan pasien. Hasil laboratorium penting agar penyebab tidak ditentukan berdasarkan dugaan atau perdebatan media sosial.
Keempat, seluruh korban harus didata dan dipantau. BGN menyatakan akan menyisir penerima manfaat yang mungkin mengalami gejala tetapi belum mendatangi fasilitas kesehatan.
Kelima, evaluasi tidak boleh berhenti di SPPG Kalitengah. SPPG lain juga harus diperiksa.
BGN pusat harus menunjukkan bahwa tanggung jawab bukan sekadar memecat kepala dapur. Ganti orang penting bila memang ada kelalaian, tetapi sistem juga harus diperbaiki.
BGN harus memastikan setiap ompreng memiliki label waktu konsumsi yang jelas dan benar. Petugas wajib memahami keamanan pangan dan distribusi harus mengikuti batas waktu. Pengawasan harus sampai ke dapur.
Hasil investigasi juga perlu disampaikan terbuka kepada publik. Masyarakat berhak tahu apa yang salah, siapa yang bertanggung jawab, dan apa yang diperbaiki.
MBG bukan program kecil. Niatnya baik: memberi makanan bergizi. Tetapi niat baik harus dibarengi disiplin dan tanggung jawab.
Jangan sampai program yang seharusnya membuat anak sehat justru membuat orang tua menangis di lorong rumah sakit. Di balik 748 korban ada 748 cerita.
Ada ibu yang tidak tidur malam itu. Ada ayah yang menahan cemas menunggu dokter. Ada santri yang mungkin masih bertanya dalam hati: “Kenapa setelah makan saya jadi sakit?”
Pertanyaan anak itu sederhana. Jawabannya tidak boleh sederhana. Kita membutuhkan makanan bergizi dan aman. Sebab sepiring nasi mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang anak, sepiring nasi adalah amanah.
Ketika amanah itu diberikan kepada negara dan pengelola SPPG, tidak boleh ada ruang untuk bekerja asal-asalan. Semoga seluruh santri dan siswa segera pulih. Semoga Sidoarjo menjadi pelajaran mahal, jangan sampai dibayar lagi oleh air mata anak-anak lain.***
