'Indonesia Kini Dah Maju Pesat'

AWALNYA mereka rombongan 4 orang emak-emak, pelancong dari Kuala Lumpur (KL), Malaysia yang ternyata para cikgu yang bingung mau ambil photo bersama.
Saya menawarkan diri karena melihat antusiasme mereka tampak takjub dengan WHOOSH (Waktu Hemat, Operasi Optimal, dan Sistem Handal), dalam arti otentik bahasa Inggris, Mendising. Hal serupa saya alami saat pertama mendarat di Bandara KL (Kuala Lumpur) menuju Central Station tahun 2004 saat melakukan liputan khusus penyiksaan TKW asal NTT, Nirmala Bonat di Malaysia.
Melihat kota KL, terutama pengalaman jasa transportasi, sungguh mengesankan dan menakjubkan saya saat itu. Saya datang dengan pandangan pembangunan Malaysia jauh tertinggal di bawah Indonesia.
Tapi setelah melihat kemajuan Malaysia, saya iri cenderung marah pada Indonesia. Jangankan sejajar, mengejar Malaysia saja saat itu berat rasanya.
Dari situ saya membatin, "Wajar sering terjadi sengketa budaya dan teritori. Kemajuan Malaysia sudah pada level 'mampu berhadapan dengan Kakak serumpunnya'. Luar biasa kemajuannya.
Saya berpikir, kalau Indonesia tidak menggenjot pembangunan infrastruktur serentak dengan itu memperkuat ekonomi kerakyatan, Indonesia akan semakin berada jauh tertinggal di bawah lutut negara bertumbuh di Asia Tenggara.
Dengan segala kontroversinya, Presiden Jokowi mampu selesaikan pondasi pembangunan infrastruktur nasional tersebut. VIVA, VIVA INFRASTRUKTURA... Demikian yel yel mahasiswa FTSL ITB, tempat anak saya kuliah.
Dan, saat ini Presiden Prabowo menyempurnakannya dengan memperkuat pondasi ekonomi kerakyatan. Beri dukungan, kalaupun harus dikritik, beri ktitik yang konstruktif. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kita sudah bergerak di jalan yang benar. Sirotol mustaqiim menuju bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Jelang berpisah dengan 4 Cikgu pelancong Malaysia tadi, dia berkate pade saye:
"Indonesia kini sudah maju dengan pesat. Kami gembira ke Indonesia, banyak makanan yang sedap dan murah. Apa-apa sahaja barangan untuk dibeli lebih murah di Indonesia".
Dalam hati saya berkata, bukan barang dan makanan kami yang murah, sepertinya mata uang Ringgit Malaysia yang lebih kuat.
Tapi jujur, saya sedikit puas ada pengakuan dari pelancong Malaysia atas kemajuan di Indonesia. Suatu yang saya harapkan sejak 2004, terbalas tuntas.
Ini yang kedua saya naik Whoosh, memang harganya lebih mahal tapi setimpal. Begitu masuk stasiun sampai gerbong dan turun di stasiun tujuan, vibes nya positif: nyaman, aman, tenang, bersih, melayani, tepat waktu, tertib, ramah, dan lengkap semua ada.
Kesan paling dalam, selama perjalanan saya seperti DEJAVU saat menaiki kereta api antar kota do Eropa:
HENING, TENANG, BERSIH, PEMANDANGAN INDAH kecuali ada rombongan yang ramai, biasanya berisik atau ngobrol santai para pramusaji...
Satu-satunya kelemahan WHOOSH:
Jaraknya kurang jauh. Ke depan Whoosh harus tembus sampai ujung pulau Jawa berkembang terus ke Indonesia Timur dan Barat.
Karena, saat naik Whoosh rasa bangga jadi orang Indonesia bertambah.
Keluar dari stasiun akhir, Tegaluar, saya mau coba naik Ojeg saja ke kampus ITB Jatinangor. Lumayan jauh, saya pikir tak apa 'main bawah' seperti ini harus dirawat. Selain membawa nikmat bisa mendengar banyak kisah rakyat, juga agar tidak oleng nanti saat tidak lagi menjabat.
Rupanya pangkalan ojeg agak jauh lokasinya, saya ditawari naik Damri. Masalahnya, penumpang minimal harus 3 orang baru bisa berangkat.
Akhirnya, saya harus menunggu KA Whoosh berikutnya tiba dan ikut membantu petugas Damri mencari tambahan penumpang. Akhirnya, dapat 2 penumpang baru yang berhasil saya rayu. Kami langsung berangkat menuju ITB Jatinangor nilik anak lanang persiapan semacam OSPEK jaman perjuangan saya saat jadi mahasiswa. Di ITB namanya OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB). Memang ngerih ITB ini, sistem bounding-nya sudah benar-benar membuat kita seperti keluarga.
VIVA, VIVA INFRASTRUKTURA......***
