Padahal Jadi Makanan Favorit, Nasi Campur Dan Nasi Goreng Malah Picu Inflasi Di Batam

KEPRINESIA 19 Jun 2026 09:01 2 min read 43 views By Eva
Padahal Jadi Makanan Favorit, Nasi Campur Dan Nasi Goreng Malah Picu Inflasi Di Batam
Nasi Padang bungkus menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Batam. Diperkirakan ada ribuan rumah makan Padang, baik besar maupun kecil tersebar di kota industri ini.

Koran Bintan.com | BATAM —  Nasi Campur, termasuk Nasi Padang bungkus atau take-out dan nasi goreng menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar. termasuk lima besar di Kota Batam, Kepulauan Riau. Emas perhiasan menempati posisi puncak sebagi penyumbang inflasi di kota industri ini.

Hal itu dikatakan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau, Rony Wijidarto dalam acara High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Raja Haji Fisabilillah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (19/6/2026).

“Inflasi diukur dari perubahan harga, bukan semata-mata tingkat harga. Karena itu, menjaga stabilitas harga, terutama di pasar tradisional, menjadi sangat penting mengingat fluktuasinya cukup tinggi,” kata Rony.

Sementara itu, emas perhiasan menjadi selalu komoditas penyumbang inflasi nomor satu sepanjang tahun di Kota Batam, secara konsisten memicu inflasi bulanan dan tahunan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Selama tiga tahun ini, emas masih menjadi komoditas yang paling menjadi incaran masyarakat.

"Emas perhiasan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Batam selama tiga tahun terakhir. Fenomena tersebut sekaligus mencerminkan tingginya daya beli masyarakat," kata Rony.

Rony menambahkan, tingginya inflasi ini dipicu oleh kuatnya daya beli masyarakat Batam. Namun di sisi lain, Batam menghadapi tantangan struktural karena keterbatasan lahan pertanian produktif, sehingga pemenuhan kebutuhan pangan sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

"Terdapat lima komoditas utama yang menjadi motor penggerak inflasi di Batam, antara lain emas perhiasan, tarif angkutan udara, beras, daging ayam ras, serta kelompok makanan jadi, seperti nasi campur dan nasi goreng," ujar Rony.

Ditemui di Pelita, Amrizal, pedagang nasi Padang Ampera kepada Koran Bintan mengatakan, lonjakan harga beras, cabai merah dan cabai hijau maupun cabai rawit serta melemahnya nilai tukar Rupiah menyebabkan biaya operasional meningkat. "Kami terpaksa menaikkan harga jual," kata Uda Am, demikian dia disapa.

Selain itu, dia juga merasakan naiknya harga sejumlah bahan baku yang melonjak tinggi di pasar seperti minyak goreng, daging sapi, ayam, telur, bumbu dapur giling, sayur-sayuran, dan lainnya. Kenaikan harga tersebut menjadi dilema tersendiri bagi mereka, dimana satu sisi harus mempertahankan pelanggan dan disisi lain menghindari kerugian.

Kondisi tersebut membuat Uda Am terpaksa harus menaikkan harga jual nasi Padangnya secara bertahap. "Ya, ada yang Rp 500, ada yang seribu rupiah kita naikkan. Kalau bahannya tak naik, ya tidak kita naikkan," ujar dia.(eva)

Chat with us on WhatsApp