FTZ Batam Resmi Diperluas menjadi 22 Pulau

IPOLEKSOS 09 Jun 2026 18:54 5 min read 17 views By Nick Wardi

Share berita ini

FTZ Batam Resmi Diperluas menjadi 22 Pulau
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputy Prime Minister (DPM)/Minister for Trade and Industry Singapura Gan Kim Yong melakukan serah terima dokumen MoU usai ditandatangani.

Koran Bintan.com | JAKARTA — Indonesia dan Singapura sepakat untuk mengembangkan luas wilayah free trade zone (FTZ) Batam di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang semula meliputi 8 pulau menjadi 22 pulau.

 

Penegasan itu terungkap dari hasil pertemuan tingkat menteri atau 16th Ministerial Meeting of Six Economic Working Groups Indonesia-Singapore (MM 6WG) yang dilaksanakan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

 

Pertemuan ini sebagai tindak lanjut dari pertemuan The 13th Senior Official Meeting of The Six Economic Workings Group (SOM 6WG) pada tanggal 21 Mei 2026 lalu.

 

Baca juga : Indonesia-Singapura Perkuat Kemitraan Sektor Industri, Transisi Hijau, dan Agriteknologi

 

Pertemuan Tingkat Menteri ini, dipimpin bersama oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, sebagai Co-chairs dari Pemerintah Republik Indonesia dan Deputy Prime Minister (DPM) and Minister for Trade and Industry Singapura Gan Kim Yong, sebagai Co-chairs dari Pemerintah Singapura.

 

Singapura merupakan partner strategis bagi Indonesia yang tidak hanya dalam bidang perdagangan dan investasi, namun juga meliputi industri, transisi hijau, dan agriteknologi. Kegiatan MM 6WG dilaksanakan untuk memperkuat kerja sama ekonomi bilateral Indonesia-Singapura dalam kerangka enam Working Groups (WG), yaitu Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan KEK, Investasi, Transportasi, Pariwisata, Ketenagakerjaan, dan Agribisnis.

 

Dalam perkembangan kerja sama di wilayah BBK, realisasi investasi meningkat dari USD 4,61 miliar pada tahun 2024 menjadi USD 5,71 miliar pada tahun 2025. Sementara Nongsa Digital Park semakin berkembang sebagai pusat digital regional dengan beroperasinya sejumlah pusat data.  Selain itu pembangunan koneksi kabel bawah laut ke Singapura juga ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.

 

Sementara itu pada bidang investasi, Kendal Industrial Park di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah telah mencapai kapasitas penuh dan saat ini telah memasuki tahap ekspansi.

 

Untuk kerjasama bidang energi hijau, kedua negara juga semakin konkret melalui pengembangan salah satu proyek pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Indonesia yang berlokasi di Sulawesi Tengah.

 

Kerja sama bidang pengembangan SDM turut diperkuat melalui program Tech:X dan Youth Mobility Programme yang bertujuan meningkatkan konektivitas talenta digital kedua negara serta mengoptimalkan potensi ekonomi digital.

 

Pada sektor transportasi, konektivitas udara Indonesia–Singapura telah mencakup 17 rute kota dengan dibukanya penerbangan baru maskapai Scoot ke Belitung dan Pontianak. Selain itu, kedua negara sedang menjajaki kerja sama yang lebih erat antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines dalam kerangka bilateral Air Service Agreement.

 

Di bidang agribisnis, kerja sama akan diperkuat melalui implementasi Work Plan 2026–2030. Sebagai bagian dari upaya pengembangan generasi baru inovator pertanian, 13 petani muda Indonesia berpotensi tinggi akan mengikuti program pelatihan pertanian di Singapura pada Juni 2026.

 

Di sektor pariwisata, mobilitas masyarakat kedua negara juga terus meningkat dengan 2,44 juta warga Indonesia berkunjung ke Singapura dan 1,5 juta warga Singapura berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025. Kedua negara juga terus mendorong pengembangan wisata kapal pesiar, program destination twinning di sekitar Labuan Bajo, serta kolaborasi MICE yang dipimpin oleh sektor swasta.

 

Menanggapi perkembangan keenam WG tersebut, Menko Airlangga menegaskan signifikansi  6WG sebagai forum utama untuk meningkatkan nilai perdagangan dan investasi Indonesia-Singapura yang konkret, berorientasi hasil, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara.

 

“Indonesia dan Singapura adalah mitra strategis yang memiliki hubungan ekonomi yang erat dan saling menguntungkan dengan kekuatan ekonomi masing-masing yang saling melengkapi. Sinergi tersebut telah menjadi landasan utama bagi keberlanjutan kemitraan kedua negara, serta semakin memperkuat relevansinya dalam menghadapi tantangan dan persaingan global yang kian kompleks dan dinamis,” ungkap Menko Airlangga.

 

Sedangkan DPM Gan Kim Yong menegaskan komitmen Pemerintah Singapura untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara dalam berbagai sektor. “Saya senang menyampaikan bahwa kondisi kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Singapura semakin kuat dan yang terpenting, semakin menuju ke arah yang tepat,” pungkas DPM Gan Kim Yong.

 

Secara statistik, pada akhir 2025 Singapura masih merupakan mitra utama dagang terbesar ketiga bagi Indonesia dengan total nilai perdagangan mencapai USD32,8 miliar. Hal ini mencerminkan tren positif pertumbuhan sebesar 3,9% selama kurun waktu 5 tahun terakhir.

 

Dalam bidang investasi, Singapura juga masih merupakan investor asing terbesar di Indonesia dengan total nilai investasi mencapai USD17,4 miliar pada tahun 2025. Dengan demikian, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir total nilai investasi Singapura di Indonesia telah mencapai USD75,5 miliar dan telah berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 820.000 lapangan pekerjaan di berbagai sektor.

 

Di akhir pertemuan, kedua Menteri menandatangani Joint Report to Leaders on the Six Bilateral Economic Working Groups yang selanjutnya akan menjadi laporan capaian kerja sama ekonomi Indonesia-Singapura pada pelaksanaan Leaders’ Retreat  Indonesia-Singapura 2026 mendatang.

 

Selain itu, kedua Menteri turut menyaksikan penandatanganan Term of Rereferences for the Study on Batam, Bintan and Karimun’s (BBK) Tech Sector for the Working Group on BBK and Other Special Economic Zones (SEZs) oleh Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Dida Gardera, dan Chairman Singapore Economic Development Board (EDB) Png Cheong Boon.

 

Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Singapura juga menyampaikan keyakinannya terhadap kuatnya fundamental perekonomian Indonesia serta mengapresiasi berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah Indonesia untuk memperkuat kepentingan nasional, termasuk kebijakan ekspor satu pintu.

 

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ketahanan rantai pasok global akibat berbagai dinamika geopolitik, Indonesia dan Singapura telah sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan rantai pasok industri dan ekonomi digital.

 

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pengembangan kawasan BBK, perluasan kawasan industri strategis, serta pembicaraan mengenai penguatan sinergi Singapura–Johor–Riau sebagai pusat data. Upaya ini dinilai penting mengingat sektor digital dan ketahanan rantai pasok akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

 

Terlihat hadir dalam acara itu, Duta Besar Indonesia untuk Singapura Hotmangaradja Pontas Pandjaitan, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Dida Gardera, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah/ Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, serta perwakilan kementerian/lembaga terkait.(nck)

>>